Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Berdasarkan data perdagangan pagi hari, rupiah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dan menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah secara intraday.
Pelemahan ini dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari tingginya suku bunga AS hingga meningkatnya tensi geopolitik dunia yang memicu arus modal keluar dari negara berkembang. Bank Indonesia sebelumnya menyatakan akan terus melakukan langkah intervensi demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar yang masih tinggi.
Data Refinitiv hingga pukul 10.03 WIB mencatat rupiah melemah 0,59% ke posisi Rp17.505 per dolar AS. Level tersebut sekaligus menembus batas psikologis baru di angka Rp17.500 per dolar AS.
Selain faktor domestik, tekanan juga datang dari situasi geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyebut peluang gencatan senjata dengan Iran berada di “ujung tanduk” usai Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri perang.
Iran diketahui mengajukan sejumlah syarat, termasuk penghentian konflik di berbagai wilayah, pencabutan blokade laut AS, hingga pemulihan ekspor minyak mereka. Teheran juga menegaskan kontrol atas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Pernyataan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 1% pada hari ini setelah sebelumnya naik lebih dari 2% di perdagangan Senin. Di sisi lain, indeks dolar AS kembali menguat ke level 98 usai sempat turun ke kisaran 97 dalam dua hari terakhir.
Post comments (0)