YOGYAKARTA — Musim kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia terus menunjukkan dampak yang kian signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pemutakhiran data analisis iklim terkini mengenai fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem. Berdasarkan laporan tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara mengejutkan menduduki peringkat puncak nasional sebagai wilayah dengan durasi tanpa hujan paling panjang di tanah air, yakni mencapai 161 hari berturut-turut.
Angka fantastis ini menempatkan DIY di atas provinsi-provinsi terdampak ekstrem lainnya, seperti Jawa Tengah yang mencatatkan durasi 160 hari, Jawa Timur dengan 159 hari, serta Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 148 hari. BMKG sendiri menetapkan suatu kriteria sebagai HTH Ekstrem Panjang apabila sebuah kawasan sama sekali tidak diguyur hujan selama lebih dari 60 hari secara konsisten.
Pemetaan Durasi Kekeringan per Wilayah di DIY
Berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer dan stasiun pengamatan iklim BMKG per Oktober, tren kekeringan di wilayah DIY menyebar secara merata dengan variasi durasi yang terbilang kritis:
- Kabupaten Bantul (161 Hari): Menjadi episentrum durasi HTH terpanjang tidak hanya di level provinsi, tetapi juga di seluruh Indonesia. Beberapa kapanewon yang terdampak paling parah meliputi Pajangan, Pundong, Bantul, Jetis, hingga Imogiri.
- Kabupaten Gunungkidul (145 Hari): Menempati urutan kedua di DIY. Kawasan geografis karst ini terus menghadapi keterbatasan ketersediaan sumber air tanah.
- Kabupaten Kulon Progo (138 Hari): Mencatatkan periode kering yang cukup panjang, terutama di kawasan dataran rendah hingga perbukitan Menoreh.
- Kabupaten Sleman & Kota Yogyakarta (118 Hari): Walau berada di angka terendah untuk skala lokal provinsi, durasi ini tetap melampaui ambang batas ekstrem panjang BMKG (60 hari).
Ancaman Krisis Air Bersih dan Sektor Pertanian
Panjangnya rantai hari tanpa hujan di Yogyakarta berdampak langsung pada penurunan drastis debit air tanah, sumur-sumur warga yang mulai mengering, serta menyusutnya cadangan pasokan air irigasi teknis untuk lahan pertanian. Kondisi ini meningkatkan potensi gagal panen (puso) di sektor pertanian lokal, sekaligus memicu kerentanan terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah perbukitan.
Untuk mengantisipasi krisis yang semakin meluas, jajaran pemerintah daerah bersama instansi kebencanaan dan relawan terus menggiatkan distribusi droping air bersih secara berkala ke titik-titik krisis, khususnya wilayah terdampak di Bantul dan Gunungkidul.
Imbauan BMKG dan Efisiensi Penggunaan Air
BMKG meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tetap bijak dalam mengelola konsumsi air bersih sehari-hari.
“Masyarakat diimbau untuk lebih hemat menggunakan air dan memprioritaskan pemenuhannya untuk kebutuhan pokok harian. Selain itu, para petani diharapkan dapat menyesuaikan pola tanam serta mengoptimalkan sumber air alternatif guna meminimalkan risiko kerugian yang lebih besar,” rilis panduan kewaspadaan iklim BMKG.
Bagi wilayah yang diproyeksikan segera memasuki periode transisi atau pancaroba, BMKG juga mengingatkan agar kebersihan saluran drainase dan selokan mulai dibenahi dari sekarang guna mencegah risiko luapan air mendadak saat hujan pertama datang nanti.
Dengerin UNISI 104.5 FM di manapun, via www.UnisiFM.com.
Follow sosmed @UnisiFM.
Hubungi kami
WA 0817-234-1045.
Tlp 0274 540258.
Radio terbaik Jogja. Radio yang paling hit di Jogja. Radio Favorit Jogja. Radio nomor satu di Jogja. Radio anak muda di Jogja. Radio top 40 Jogja.
Post comments (0)