Yogyakarta – Kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya dipakai untuk mengerjakan tugas atau mencari informasi. Bagi banyak anak muda, AI juga menjadi tempat berbagi cerita. Riset Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) menemukan bahwa 59,4 persen Gen Z di Indonesia pernah menceritakan masalah pribadi mereka kepada AI.
Hasil riset itu dipaparkan dalam webinar “Beyond the Prompt: Pemahaman Gen Z terhadap Batasan AI dalam Konteks Curhat di AI”. Topik yang paling sering diceritakan adalah pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, dan keluarga.
Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah, menyebut hubungan manusia dengan AI sebagai hubungan yang paradoksal. AI memberi kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Menurutnya, chatbot kini menjadi ruang alternatif untuk berdiskusi dan mencari bantuan. Banyak responden bahkan bertahan lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi karena merasa bebas bicara tanpa takut dihakimi.
Peneliti DiRI, Haris Fatwa, menilai kebiasaan ini muncul bukan karena Gen Z tidak punya teman. Mereka menjadikan AI sebagai pendengar tambahan yang tidak menghakimi. Ia juga melihat gejala krisis ruang aman di dunia nyata. Gen Z sebenarnya paham AI bisa bias dan berhalusinasi, tetapi tetap memilihnya demi respons cepat dan validasi instan.
Riset ini juga mencatat sejumlah temuan terkait data pribadi:
– 88,7 persen responden yakin AI mungkin menyimpan data percakapan mereka.
– 90,9 persen menilai kebijakan privasi platform AI belum jelas.
– 75,1 persen khawatir datanya disalahgunakan.
– 63,2 persen tetap membagikan cerita pribadi ke AI.
Selain itu, 70,2 persen responden mengeluhkan bahwa AI sering tidak menangkap kedalaman emosi manusia.Psikolog sosial sekaligus konselor Helpine.id, Syurawasti Muhiddin, mengatakan rasa nyaman bercerita ke AI umumnya berakar dari ketakutan dihakimi. Ia menegaskan AI tidak bisa menggantikan profesional kesehatan mental, terutama untuk diagnosis medis maupun psikologis. Menurutnya, kolaborasi antara konselor manusia dan AI adalah pendekatan paling ideal.
Peneliti CSIE Sekolah Tumbuh, Ria Putri Palupijati, mengingatkan bahwa AI tetap sebatas alat. Jika batasnya tidak disadari, seseorang bisa kehilangan jati diri. Media sebaiknya diposisikan sebagai sistem pendukung, bukan pengganti diri yang otentik.
Mengacu pada kerangka literasi digital UNESCO dan DigComp 2.2 dari Komisi Eropa, DiRI merekomendasikan penguatan empat kompetensi pada generasi muda:
1. Berpikir kritis terhadap keluaran AI
2. Literasi informasi dan data
3. Kesadaran privasi dan keamanan digital
4. Penggunaan AI yang etis
Kabar baiknya, hampir 90 persen responden sudah punya kesadaran sedang hingga tinggi tentang keterbatasan AI. Tantangan berikutnya adalah mengubah pengetahuan itu menjadi perilaku yang bertanggung jawab, termasuk tahu kapan AI cukup sebagai alat bantu dan kapan perlu bicara dengan keluarga, teman, konselor, atau tenaga kesehatan mental.
Dengerin UNISI 104.5 FM di manapun, via www.UnisiFM.com.
Follow sosmed @UnisiFM.
Hubungi kami
WA 0817-234-1045.
Tlp 0274 540258.
Radio terbaik Jogja. Radio yang paling hit di Jogja. Radio Favorit Jogja. Radio nomor satu di Jogja. Radio anak muda di Jogja. Radio top 40 Jogja.
Post comments (0)