EDUKASI

Kunang-Kunang Makin Sulit Ditemui, Ternyata Jadi Tanda Kualitas Lingkungan Menurun

todayOctober 11, 2026 1

Background
share close

Pernah merasa sekarang makin jarang melihat kunang-kunang? Keluhan seperti ini belakangan cukup sering muncul di kalangan warganet. Ternyata, hilangnya serangga bercahaya ini bukan cuma soal nostalgia masa kecil, tetapi juga berkaitan dengan kondisi lingkungan.

Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, dosen sekaligus peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan salah satu bioindikator lingkungan.

Artinya, keberadaan atau hilangnya kunang-kunang bisa menjadi gambaran mengenai sehat atau tidaknya sebuah ekosistem. Ketika kondisi lingkungan memburuk, populasi kunang-kunang biasanya ikut menurun dan bahkan bisa menghilang.

Fenomena ini ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Secara global, populasi kunang-kunang juga menghadapi ancaman. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi masuk dalam kategori terancam. Sejumlah spesies khas Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand bahkan sudah masuk kategori rentan.

Di Indonesia sendiri, berbagai penelitian entomologi menunjukkan adanya penurunan populasi kunang-kunang, terutama di kawasan perkotaan. Serangga ini dikenal cukup sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan, termasuk perubahan kelembapan tanah dan pencemaran.

Habitat Rusak Jadi Ancaman Utama

Salah satu penyebab utama berkurangnya kunang-kunang adalah kerusakan habitat. Perubahan lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman atau industri membuat habitat yang dibutuhkan kunang-kunang semakin terbatas.

Padahal, larva kunang-kunang membutuhkan tanah yang lembap untuk tumbuh dan berkembang.

Selain kehilangan habitat, polusi cahaya juga menjadi masalah serius. Penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, termasuk lampu LED, dapat mengganggu proses perkembangbiakan kunang-kunang.

Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan menangkap sinyal cahaya dari betina. Akibatnya, proses mencari pasangan dan reproduksi bisa terganggu.

Tak hanya itu, penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan, saluran irigasi yang disemen, hingga urbanisasi yang semakin masif juga ikut mengancam keberadaan kunang-kunang.

Masih Bisa Ditemukan di Lingkungan yang Terjaga

Meski semakin sulit ditemukan, kunang-kunang sebenarnya masih bisa hidup di sejumlah habitat yang kondisinya masih baik.

Beberapa di antaranya adalah kawasan mangrove, tepian sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

Prof. Upik mengingatkan, jika kerusakan habitat dan polusi cahaya terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya bisa mengenal kunang-kunang lewat buku, museum, atau layar digital.

Karena itu, menjaga habitat kunang-kunang bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Misalnya, tidak menutup seluruh halaman dengan semen, mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memilih pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan saluran air.

Sebab, keberadaan kunang-kunang sangat bergantung pada kondisi habitatnya. Ketika lingkungan tetap terjaga, kesempatan untuk melihat cahaya kecil mereka di malam hari juga akan tetap ada untuk generasi berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengerin UNISI 104.5 FM di manapun, via www.UnisiFM.com.

Follow sosmed @UnisiFM.

Hubungi kami
WA 0817-234-1045.
Tlp 0274 540258.

Radio terbaik Jogja. Radio yang paling hit di Jogja. Radio Favorit Jogja. Radio nomor satu di Jogja. Radio anak muda di Jogja. Radio top 40 Jogja.

Written by: Admin

Rate it

Previous post

Highlights

Pemerintah Siapkan Perluasan Whoosh hingga Jawa Timur

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana pemerintah untuk memperluas jaringan kereta cepat Whoosh hingga Jawa Timur. Wacana ini muncul setelah pengelolaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dialihkan dari Danantara ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Purbaya mengatakan, pembahasan mengenai rencana tersebut sudah dilakukan bersama Menteri Keuangan China dan sejumlah pihak berwenang di negara tersebut. “Nanti kita tarik ke Jawa Timur [Whoosh]. Kan jadi punya saya kan, punya SMV (Special Mission Vehicle) itu […]

todayOctober 10, 2026 2

Post comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0%